jump to navigation

Siapa Pemimpin Anda? Saya jawab Ilmu February 15, 2008

Posted by fuadhanif in Islam.
trackback
home_study.jpgKita masih sering melihat masyarakat yang brutal hanya karena issue atau provokasi dari orang lain; “Ayo kita hancurkan gedung itu…, Ayooo…”. Kita masih banyak menyaksikan kalangan masyarakat yang mengatakan “opo jare si A”. atau orang-orang yang melakukan sesuatu tanpa didasari pengetahuan yang cukup sehingga banyak menimbulkan kemudlaratan daripada kebaikan-kebaikan. Hal-hal tersebut adalah contoh riil yang terjadi di sekitas kita. Banyak efek buruk yang terjadi ketika sesuatu dikerjakan oleh orang yang tidak mempunyai pengetahuan tentangnya (ilmu). Dalam kasus pemerintahan misalnya, ketika suatu jabatan public diserahkan pada orang yang tidak ahlinya maka akan menimbulkan banyak kesemrawutan, ketidakberdayaan, kesengsaraan pada public, dsb. Tapi jangan hanya slogan doang lho seperti pada pilkada kemaren “Serahkan ‘…’ pada ahlinya pasti akan beres”, namun buktinya? Nonsen.

Dalam konteks agama, ilmu (pengetahuan) merupakan rukun pertama yang harus diutamakan dari pada yang lainnya. Karena ilmu dalam konsepsi Islam selalu mendahului setiap amalan, bahkan ilmu merupakan landasan dari keimanan dan jalan menuju keyakinanyang benar. Semua ahli tasawuf seperti Imam Al Ghozali dan yg lain sepakat bahwa menegakkan bangunan agama, berakhlag karimah, tidak akan semurna jika tidak ada 3 unsur yang bercampur dalam dirinya; ilmu, hal (kesadaran) dan amal. Karena ilmu akan mewariskan haldan hal akan mendorong terjadinya amal perbuatan.

Ulama besar Imam Bukhari bahkan menyebutkan dalam kitabnya; “Al-‘Ilm qobla al-qaul wal al-amal” artinya ilmu itu harus didahulukan sebelum berucap dan beramal. Karena dengan ilmu-lah niat kita akan lurus dan perbuatan kita akan dilegitimasi. So, dalam melegitimasi sesuatu mestinya peran ilmu itu harus dominant, bukan atas interes/kepentingan semata; untuk ini-lah untuk itu-lah, ada saja.

Dalam kehidupan yang semakin kompleks ini, semakin global, ternyata banyak pengkaburan-pengkaburan nilai; sesuatu yang jelek (bathil) terlihat baik (haq), dan yang baik dianggap jelek atau perkara munkar dianggap ma’ruf sementara yang ma’ruf dianggap munkar. Itulah sebabnya dalam mencari ilmu harus berasal dari sumber dasar yang benar (Al-quran dan Sunnah), dari orang-orang yang dapat dipercaya.

Setelah pemahaman tentunya harus ada kesadaran untuk kemudian melakukan sesuatu yang benar (beramal). Karena banyak orang yang sudah punya pondasi ilmu tapi digunakan untuk mbujuki, membuat perpecahan, bahkan korupsi. Tidak hanya No action talk only (NATO) atau No action dream only. Dan selanjutnya tentunya kebaikan-kebaikan yang kita lakukan itu (jujur, peduli, aktivitas ibadah, dsb) tidak hanya kita konsumsi sendiri melainkan harus kita tularkan pada orang-orang di sekitar kita, bukan malah menularkan virus/penyakit.

Ketika dalam dunia pendidikan pun mestinya guru punya ilmu mendidik anak, mengarahkan anak, kompetensi sesuai dgn disiplin ilmu, sehingga kalau ditanya oleh siswa sedangkan guru tidak tau maka jangan dijawab ngawur, namun carilah ilmunya dulu dan berikan jawaban kepada mereka. Makanya ketika ditanya siapa pemimpinmu? Maka kita harus tegas menjawab ‘ilmu’. (tentunya ilmu yang haq).

Berjuang tuntaskan perubahan !
Fuad Hanif Hasan (FH2)

Comments»

1. sapta nugraha - February 16, 2008

menuntut ilmu menjadi sebuah kewajiban bagi kita
“tuntutlah ilmu hingga ke negeri cina”
perjuangan dan perubahan butuh Ilmu dengan bekal sabar dan Istiqomah

salam kenal kembali akh Hasan