jump to navigation

Pilkada Jatim: Masuk Putaran Kedua July 24, 2008

Posted by fuadhanif in Isu Aktual.
trackback

Lelah! Mungkin kesan itu yang muncul dibenak banyak orang melihat hasil Pilkada Jatim kemarin. Walaupun dari KPU belum memutuskan, tapi berdasar pada hasil survai beberapa lembaga survai PusDeHAM, Lembaga-SI, Lingkar-SI, semua memastikan bahwa terjadi putaran kedua, karena tidak ada salah satu pasangan yang melebihi nominal 30% dari suara yang masuk. Akibatnya hanya 2 kandidat dengan prosentase tertinggi saja yang akan bertarung lagi: KarSa versus Ka-Ji. Sementara SR, Salam, dan Akhsan tumbang. Ternyata ‘Akhsan’ maknanya tidak lebih baik, hehehe..
Dominasi partai besar seperti PKB, PG, dan PDI-P terkalahkan oleh figure. Karena memang KarSa dan Ka-Ji tidak diusung oleh ke-tiga partai itu. Disinilah tingkat rasionalitas masyarakat mulai terlihat. Sangat kentara dalam beberapa acara baik penyampaian visi-misi, maupun debat kandidat oleh TVOne dan MetroTV, yang lebih menonjol dalam hal kecerdasan dan kepemimpinan adalah pasangan Ka-ji dan KarSa, sedangkan SR, Salam, apalagi Akhsan terlihat sangat normatif.

Setelah ini…

Dapat dipastikan akan terjadi ‘persaingan’ yang lebih besar, karena memang tinggal 2 calon dan peluang menang sama-sama 50%. Tingkat lobi-lobi politik oleh tim sukses maupun elite politik partai akan lebih gencar kepada partai-partai pengusung ke-3 calon yang kalah. Sejauh mana mereka mampu menggandeng mereka maka peluang untuk menang sangat besar. Karena dilihat dari massa partai, misal; massa PKB dan PDI-P adalah paling loyal (ga tau deh loyal karena dilandasi rasio atau hanya asal alias opo jare…). Kedua partai tersebut mencapai kurang lebih 30% suara. Sehingga jika ditambah dengan suara calon dari KarSa atau Ka-Ji akan lebih dari 50%, so dia akan menang. Namun jika tidak mampu menggandeng partai yang kalah maka calon tersebut dapat dipastikan akan kalah dalam putaran kedua.
Tentunya dari semua itu akan menambah biaya operasional Pilkada yang jumlahnya ratusan milyar:woooww.., akan mengurangi produktivitas perusahaan karena libur, kita juga capek kan?! Ikut kampanye-lah, nyebar brosur, masang spanduk, dan sebagainya (wah…fans beratnya siapa nih? Hehe..). Tapi itu semua adalah bagian dari upaya untuk pembelajaran dan pendidikan politik pada rakyat, jadi jangan apatis-lah apalagi ikut berkampanye Golput kayak Prof. Kiki, hehe… Yang perlu dibangun adalah bagaimana berpolitik yang baik, jujur, santun, tidak money politics, tidak anarkis, dilandasi dengan semangat demokrasi bukan demo-crazy, dilandasi dengan pemahaman rasional terhadap figur, jadi tidak opo jare…, pokoe…, dan seterusnya.
Pada prinsipnya bahwa negara/propinsi/kabupaten/desa harus ada leadernya. Jangan sampai tidak ada leader, karena akan kacau nantinya bangsa ini. Prasyarat untuk menjadi pemimpin ada 2 (meminjam istilahnya bung Rhenald kasali) yaitu karakter dan kompetensi. Karakter itu menyangkut kejujuran, kerendahhatian, keterbukaan dalam berfikir, respek terhadap perbedaan, integritas, dan sebagainya. Kedua adalah kompetensi, kompetensi menyangkut tentang kemampuan pemimpin dalam memberi solusi dan kemampuan melayani.
Dalam Islam terdapat 2 syarat pemimpin: Ilmu dan Kekuatan. Ilmu berarti sejauhmana pemimpin memahami Islam, ilmu tentang ketauhidan, ilmu syara’ dan sebagainya, sedang yang kedua adalah kekuatan. Kekuatan bergantung pada kebutuhan saat itu, apakah fokus yang dibutuhkan adalah keamanan sehingga tokoh militer sangat dibutuhkan, atau kebutuhan ekonomi sehingga tokoh ekonom sangat dibutuhkan dan seterusnya. Silahkan menilai.
So, saat ini Pemilu adalah sarana yang kita sepakati bersama untuk memilih pemimpin maka saatnya kita berpartisipasi.

Comments»

1. kaji - October 26, 2008

ya,memang sdah saatnya ksdaran brplitik msyrkt jwa timur dbgun!